Selasa, 23 Februari 2010

Brave Story


Judul asli: Bureibu Sutori (ブレイブ・ストーリー)
Genre: Drama, petualangan, fantasi
Produksi: Gonzo ( 2006 )
Sutradara: Koichi Chigira

Anime movie ini diangkat dari buku novel karya Miyuki Abe yang telah dibuat adaptasinya dalam bentuk manga sebelumnya. Tadinya sebelum habis menonton anime ini aku mengira bahwa cerita anime ini berdasarkan game RPG model Final Fantasy atau Dragon Quest. Dugaanku salah besar, malah game RPG-nya sendiri baru diluncurkan hanya beda 2 hari sebelum tayang animenya di bioskop-bioskop Jepang. Plot ceritanya sendiri cukup menarik dengan menampilkan perjalanan fantasi seorang remaja untuk meraih harapannya.

Seorang anak SMP bernama Wataru merasa hidupnya hancur berantakan setelah ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan ibunya (kemungkinan besar orang tuanya bercerai). Pada saat yang sama di kelas Wataru, murid pindahan baru yang bernama Ashikawa menyebarkan kabar tentang gedung tua berhantu untuk menyembunyikan rahasia sebuah gerbang ajaib yang terdapat di gedung tua tersebut. Dibalik gerbang ajaib tersebut terdapat dunia fantasi bernama Vision dengan dewi impian yang mampu mengabulkan segala macam permohonan. Tak lama kemudian secara tiba-tiba ibu Wataru ditemukan pingsan dan dalam keadaan kritis sehingga harus dirawat dirumah sakit. Wataru dengan nekad memutuskan untuk pergi ke balik gerbang ajaib untuk meminta pada dewi impian supaya mengembalikan seluruh keluarganya bahagia seperti semula.

Ternyata bagi setiap manusia yang masuk lewat gerbang ajaib (disebut sebagai Tabibito – penjelajah) harus melewati ujian penentuan peringkat terlebih dahulu berdasarkan nilai keahlian, stamina dan keberanian. Ashikawa yang pintar dan pemberani rupanya sudah terlebih dahulu masuk dan mendapatkan nilai tinggi sehingga mengawali perjalanannya sebagai “wizard” dengan senjata tongkat penyihir. Sedangkan hasil ujian Wataru sangat rendah sehingga harus mengawali perjalanannya dengan level Tabibito paling bawah yaitu sebagai “Minarai no Yuusha atau The Brave Apprentice” (agak bingung mengartikannya, mungkin “pembantu ksatria” kali yah) dengan senjata pedang jelek. Untuk menemui sang dewi impian seluruh Tabibito harus mengumpulkan 5 bola kristal yang masing-masing memiliki kekuatan. Kristal pertama diberikan diawal perjalanan sebagai modal dan 4 kristal lain harus ditemukan sendiri (tahu sendiri kan awalnya kenapa aku menyangka anime ini berdasarkan game RPG). Mulailah perjalanan Wataru dan Ashikawa untuk menemui sang dewi impian untuk menggapai permohonannya. Wataru dengan kemampuannya yang pas-pasan lambat laun mulai semakin hebat akibat kegigihan dan kekeras kepalaannya. Bagaimana dengan Ashikawa? Permohonan apakah yang diinginkan Ashikawa?

Walaupun mirip karakter game RPG, plot ceritanya sendiri lumayan bagus terutama pada perjalanan Wataru di dunia Vision. Tentang gambarnya sendiri lumayan keren, walaupun jika dibandingkan dengan anime 5 centimeters per second masih kalah kelas. Yang agak menyebalkan adalah pace cerita yang terkesan buru-buru sehingga terdapat hal-hal menarik yang dibiarkan lewat begitu saja karena mengejar waktu tayang. Yah, sutradaranya memang gagal dalam mengatur tempo. Padahal tema ceritanya sendiri walau terlihat sederhana sebenarnya jika dipikirkan lebih mendalam cukup rumit. Mungkin dengan membaca novelnya akan membuat menonton anime ini menjadi lebih menarik. Tanpa novelnya, menonton animenya tersendiri lumayan menghibur koq.
Selengkapnya...

Ponyo on the Cliff by the Sea – Ikan ingin menjadi manusia



Judul asli: Gake no Ue no Ponyo
Sutradara: Hayao Miyazaki
Produksi: Studio Ghibli ( 2008 )
“Ponyo, Ningen ni naritai – Ponyo, ingin jadi manusia”
Inilah film anime terbaru studio Ghibli karya ke sembilan sutradara animasi terkenal Jepang, Hayao Miyazaki. Setelah sukses secara komersial dengan karya sebelumnya Howl’s Moving Castle yang banyak mendapat kritikan, kali ini Miyazaki menampilkan sebuah kisah fantasi perjuangan seekor ikan mas kecil yang ingin menjadi manusia.

Seekor ikan mas yang terperangkap didalam botol bekas sampah di laut diselamatkan oleh Sosuke, seorang bocah berusia 5 tahun yang tinggal bersama ibu (tiri?)nya yang bernama Lisa (atau Risa). Oleh Sosuke, ikan mas itu diberi nama Ponyo (baca: Po-Nyo). Tanpa sengaja Ponyo merasakan darah manusia setelah menjilat luka di jari Sosuke. Setelah bergaul dengan Sosuke beberapa lama, timbul keinginan Ponyo untuk menjadi manusia. Ditunjang dengan magic yang dimilikinya dan darah manusia yang pernah dicicipinya, Ponyo mulai dapat menumbuhkan kaki dan tangan seperti manusia.

Tentu saja usaha Ponyo yang ingin menjadi manusia tidak berlangsung mulus begitu saja. Fujimoto, seorang mantan manusia yang telah berubah menjadi pemelihara kelestarian laut berusaha menghalanginya. Bagi Fujimoto, manusia tidak lebih dari makhluk menjijikan yang merusak kehidupan laut dan mengotori segala isinya dengan sampah.

Seperti karya-karya animasi sebelumnya, Miyazaki kali ini juga mengangkat isu lingkungan terutama laut dan habitatnya dalam film terbarunya ini. Miyazaki kembali ke gaya lamanya yaitu membuat anime fantasi bergaya cerita sederhana dengan banyak bahasa visual, seperti yang pernah dilakukan ketika membuat karya legendarisnya yaitu My Neighbor Totoro. Menurut kabar, Miyazaki turun tangan menggambar sendiri konsep gambar laut beserta ombaknya untuk menciptakan gaya lautan yang unik.

Dengan gaya cerita sederhana dan mudah dipahami seperti ini, Ponyo banyak menarik minat dari anak-anak kecil hingga orang dewasa untuk menontonnya. Walaupun ide ceritanya sederhana, makna mendalam dapat dirasakan oleh orang yang ingin memikirkan tentang konsep manusia itu sendiri. Lihatlah tokoh Fujimoto yang mantan manusia tetapi berbalik benci terhadap manusia. Juga tokoh-tokoh nenek tua yang tinggal dipanti jompo.

Sungguh tidak adil ketika beberapa kritikus barat yang membandingkan bahwa karya Miyazaki ini mencontek Little Mermaid. Bagi saya sendiri, hal ini sama saja dengan 7 not musik yang jika dibawakan dengan urutan dan irama berbeda dapat menghasilkan lagu berbeda. Saya pribadi memandang Little Mermaid lebih banyak bermain dalam cerita tentang romantisme percintaan manusia (hubungan pria-wanita).

Perbandingan dengan karya Hayao Miyazaki sebelumnya: Lebih bagus daripada Howl’s Moving Castle, setaraf dengan My Neighbor Totoro, tetapi sedikit masih dibawah Laputa: Castle in the Sky dan Spirited Away.

sumber : http://yusahrizal.wordpress.com/category/resensi-anime/page/2/
Selengkapnya...

Followers

A Day Dreaming... © 2008 Template by:
SkinCorner